Zaky Si Anak Istimewa

Hampir enam bulan saya ada di desk Rising Star Tribun Pekanbaru. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan dulu, narasumber saya itu macam-macam. Mulai dari murid TK sampai mahasiswa. Tapi narasumber yang satu ini benar-benar istimewa. Anak dengan diagnosis Autisme. Namanya Zaky Khairi

Sekilas Zaky Khairi seperti anak normal lainnya. Namun setelah diperhatikan lebih seksama, ada yang berbeda dengan dirinya. Dia tidak bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Diagnosis autisme, tidak menghalanginya untuk beraktivitas. Hal itu bisa dilihat dari sosok Zaky. Puluhan medali dan juga penghargaan sudah diraihnya.

Zaky sangat menyukai olahraga, musik dan komputer. Di bidang olahraga, dalam waktu dua tahun Zaky mengumpulkan 12 medali saat mengikuti Event Spesial Olympic di Houston USA. Prestasi ini ia berperoleh untuk cabang olahraga atletik, basket, renang, softball throw dan juga bowling.

Setelah pulang dari Houston USA dan kembali ke tanah air, Zaky melanjutkan pendidikannya di Jakarta dan baru kembali lagi ke Pekanbaru Riau tahun 2009 lalu. Sebelumnya di Jakarta, Zaky juga mengikuti Special Olympic Indonesia dan meraih tiga medali untuk cabang atletik. Saat ini Zaky tengah menempuh pendidikan di SMP Cendana Rumbai.

Hingga saat ini Zaky masih menjalani terapi Wicara, Okupasi, Sensori Integrasi, dan Remedial di pusat pusat terapi. Latihan olahraga, belajar piano dan drum untuk melatih konsentrasi serta menjalani program-program kemandirian (self-help) untuk pekerjaan – pekerjaan sederhana. Ia juga menjalani program peningkatan kemampuan sosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Sebagai orangtua dari anak berkebutuhan khusus, selain memberikan terapi untuk membantu perkembangan si anak, Rovanita Rama juga berusaha untuk mengembangkan bakat yang dimiliki anaknya. Mulai dari mendatangkan guru hingga mendampingi putranya ini untuk mengatasi segala keterbatasannya.
“Kunci kesukseskan dari perkembangan anak autis itu ada pada orangtuanya. Hal itu yang harus diingat oleh orangtua manapun yang memiliki anak seperti saya,”tegasnya.

Tapi sangat disayangkan,perjalanan Rovanita dalam mendampingi buah hati dengan vonis autisme juga tidak mulus. Apalagi saat mencarikan sekolah untuk Zaky. Bahkan ia sering meneteskan air mata saat memberikan penjelasan pada sekolah yang ia datangi. Khususnya di Pekanbaru, karena sekolah inklusi di Pekanbaru belum banyak.
“Saya selalu menangis, saat sekolah yang saya datangi menolak anak saya dan menyarankan untuk sekolah di SLB,”kenangnya.

Dari pengalaman tersebut ia melihat masih biasnya cara pandang pendidik terhadap program inklusi. Apalagi saat ini belum adanya standar bagaimana menjalankan dan mengelola sekolah inklusi. Topik ini jugalah yang ia angkat untuk bahan thesisnya.
“Saya berharap kedepannya ada kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan perlakukan yang sama antara anak berkebutuhan khusus dengan anak lainnya. Baik dalam hal pendidikan dan juga pekerjaan. Harus ada kebijakan dari pemerintah berkaitan dengan penanganan anak berkebutuhan khusus,”tegasnya.

Satu hal yang membuat saya agak kaget saat buk Nita bilang, anak-anak berkebutuhan khusus kayak Zaky lebih dihargai, perhatikan di luarnegeri dari pada di negaranya sendiri.

Ini sih baru sekelumit cerita dari Mama Rovanita pada saya tentang pengalamannya bersama Zaky. Sekarang Rovanita selain menekuni tugasnya sebagai Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Riau, juga mendirikan Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri di Jalan Bangau Pekanbaru. Waktu saya berkunjung kesana, setidaknya ada 50 anak berkebutuhan khusus menjalani terapi di sana.

Saya salut dengan Buk Nita. Kebanyakan orangtua banyak yang tidak terima dengan kondisi anak yang berkebutuhan khusus. Apalagi bagi mereka yang punya jabatan dan termasuk orang yang terpandang di masyarakat. Malahan saya pernah dengar mereka memilih untuk menyembunyikan anaknya dari orang banyak.

Memang sih dari pengakuan Buk Nita awalnya ia tidak terima dengan kondisi sang anak. Saat terapi di Singapura, dia malah meninggalkan anak di pusat terapi dan sibuk shopping. Untuknya ini tidak berlangsung lama. Sekarang dia malah lebih concern menjadi pembicara dan narasumber untuk pelatihan penanganan anak berkebutuhan khusus.

Tulisan ini juga untuk rubrik Rising star dan Smartwomen di Tribun Pekanbaru

Iklan

3 thoughts on “Zaky Si Anak Istimewa

  1. yolenta berkata:

    Zaky…..
    Banyak talenta yang dimilikimu….pendidikan formal di negeri kita memang terkadang menjadi sebuah patokkan menuju masa depan yang gemilang…(katanya)…..
    Tetapi dari banyak talenta yang kamu miliki pendidikan bisa diperoleh dimanapun….dan kita tidak perlu kecewa dalam hal ini…tetapi bagaimana kita harus menyikapinya

    Tetap Semangat
    salam hangat selalu
    Yolenta Delima

  2. tri widiastuti,S.Pd berkata:

    saya baru bertemu ibu nita sebulan ini..banyak yang ibu ceritakan..baik visi n misi beliau mengenai apa yang ingin ia buat seperti sekolah khusus yang ia maksud…disini pikiran saya makin terbuka n mencintai anak abk…bahwa mereka layak n berhak mendapatkan haknya untuk menjadi sosok yang berguna n layak berkarya…seperti halnya teman2 saya yang menyandang ketunaan masih mendapat diskriminasi di beberapa intansi…padahal mereka mempunyai kemampuan yang layak dipertimbangkan dengan gelar sarjana dan master yang mereka dapat…semoga dengan akan berdirinya sekolah khusus yang ibu nita buat…mampu mewujudkan setiap harapan ibu…dan saya bisa berdedikasi untuk sekolah ini…amin

  3. maria goretti Endang murdiyaningsih berkata:

    saya selalu terharu membaca kisah2 seperti ini,,,sy bbrp hari yang lalu menyaksikan bahwa di luar negeri betapa abk mendapat penghargaan yg luarbiasa dengan memberikan hak yang sama dalam dunia kerja,,,harapan kita semua negeri ini juga terbuka matanya untuk melakukan tindakan serupa,,,dengan perhatian khusus niscaya abk jg bisa bertumbuh dan berkembang seperti anak normal,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s