Narsis di Depan Warisan Kompeni

Kalo orang menyebut kota Bukittinggi mungkin kita langsung teringat dengan Jam Gadang. Yup, Jam Gadang bisa dikatakan ikon-nya Kota Bukittinggi. Tiap kali orang berkunjung kesini pasti tidak akan melewatkan untuk berpose di sini.

Seperti halnya cuti-ku beberapa waktu lalu. Libur kerja mang sering aku manfaatin untuk pulang ke Kampung halaman ini. Baso, Bukittinggi, Kampuang Nan Jauah di mato…;)

Dulu waktu masih kecil dan jaman-jaman sekolah gitu, aku paling ga suka sekedar nongkrong apalagi buat foto-foto di sana. Tapi, sekarang setiap ada kesempatan untuk pulang, aku pasti akan jalan ke sini. Minimal duduk sambil nikmati suasana sore (halah).

Apalagi klo dah ngajakin temen2 ke Bukittinggi, mungkin aku ga bakalan berhenti berceloteh untuk ceritain Bukittinggi.  Seperti waktu ke Bukittinggi bareng si Kakak, dia ga mau ketinggalan narsis2 ria di depan jam gadang.  Jam Gadang keliatan bertambah seru pada malam hari. Apalagi pas ada kembang apinya. Tapi, pas malam tahun baru 2009 yang lalu, Pemkot Bukittinggi menutup Jam Gadang ini pas pergantian tahun.  Cerita selengkapnya baca di siniupload5

Tapi, tak banyak yang tahu sejarah yang tersimpan pada Jam Gadang. Karena, banyak pengunjung hanya mengabadikan Jam Gadang, sekaligus menikmati suasana kota Bukittinggi. Padahal, di situ juga tertera catatan sejarah Jam Gadang, yang dicatatkan di atas batu marmer.

Seperti yang aku kutip dari Padang Media.com, Jam Gadang dibangun tahun 1926 oleh seorang arsitek,seorang arsitek, bernama A Yazid dan Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada countroleur (Sekretaris Kota) Rook Maker. Peletakkan batu pertama Jam Gadang ini dilakukan oleh putera Rook Maker yang berusia enam tahun.

Diameter Jam Gadang 80 cm dengan ketinggian 26 meter. Sedangkan denah dasarnya, 26 meter. Pembangunan Jam Gadang pada masa itu, tercatat menelan biaya 3000 gulden. Atapnya dari waktu ke waktu mengalami penyesuaian. Pada masa Belanda, berbentuk bulan dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Pada masa Jepang berbentuk klenteng. Baru pada masa Indonesia merdeka, berbentuk rumah adapt Minangkabau.

Kalau diperhatikan angka pada Jam Gadang, angka 4 tertulis IIII. Padahal, semestinya tertulis IV. Nah, di sinilah uniknya Jam Gadang. Sekaligus, bisa menyimpan kekuatan wisata sejarah…

Jadi klo udah ke Bukittinggi lom foto-foto di Jam Gadang berarti lom pernah ke Bukittinggi, ga afdhol….wkekekekek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s