Dulu Airnya Bisa Diminum

Fiiuuhh… Seminggu ikut dalam Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak bareng Yayasan Perkumpulan Elang dan teman-teman dari Mapala Humendala Unri jadi pengalaman yang menarik. Bayangin aja…semua aktifitas dilakukan di atas pompong (sejenis kapal motor kecil yang mempunyai kapasitas mengangkut beban 6 ton). Capeknya lagi musti langsung ke kantor n bikin laporan perjalanan…..ffiiuuhhhh….

Sungai Siak merupakan satu sungai terdalam di Indonesia dan juga menjadi kebanggaan masyarakat Riau. Sungai ini tidak hanya menjadi sumber matapencaharian bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai. Sungai ini juga dijadikan sebagai lalulintas transportasi air oleh masyarakat.

Kebanyakan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai menggantungkan hidup mereka di sungai. Mencari ikan dan juga memanfaatkan air yang mengaliri sungai untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Baik untuk mandi maupun mencuci. Namun, beberapa tahun belakangan ini berbagai permasalahan terjadi. Satu di antaranya menurunkan kualitas air sungai akibat pencemaran yang disinyalir akibat pencemaran limbah industri dan juga limbah rumah tangga.

Banyak pihak yang peduli dan memberikan perhatian serius, berbagai cara dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dan melihat secara langsung apa yang tengah terjadi pada sungai yang menjadi kebanggaan masyarakat Riau tersebut. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yayasan Perkumpulan Elang bersama mahasiswa pencinta alam Hubungan Mahasiswa Ekonomi Dengan Alam (Humendala) Universitas Riau melakukan perjalanan menyusuri Sungai Siak dan mengkampanyekan penyelamatan sungai tersebut.

Tim yang terdiri dari delapan mahasiswa dan dua aktivis dari Yayasan Perkumpulan Elang ini melakukan perjalanan dari Teluk Leok Kelurangan Limbungan Kecamatan Rumbai Pesisir hingga ke hulu Sungai Siak, tepatnya di Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak. Kampanye dilakukan dengan membagi-bagikan poster dan juga leaflet yang berisi tentang kondisi Sungai Siak dan juga himbauan agar masyarakat menjaga kelestarian dan kebersihan sungai.

Perjalananan yang dilakukan selama satu minggu ini dilakukan dengan menggunakan kapal motor atau yang pompong. Di kapal tersebut juga dibentangkan spanduk yang bertuliskan berbagai himbauan tentang penyelamatan Sungai Siak. Di antaranya terdapat spanduk yang bertuliskan Stop Polutan.

Selama perjalanan, tim ekspedisi singgah dibeberapa desa dan tempat keramaian yang ditemui di sepanjang sungai. Dari obrolan tersebut, terungkap bagaimana pendapat mereka tentang Sungai Siak dulu dan sekarang. “Dulu kami masih bisa minum air Sungai Siak ini,” ujar Ketua RT 7 RW 3 Kelurahan Perawang, Kecamatan Tualang, Siak, Syafei, saat ditemui Minggu (27/4) di Pasar Perawang saat tim singgah dan melakukan kampanye di lokasi tersebut.

Ia menceritakan, sekitar sepuluh tahun belakangan ini kualitas air Sungai Siak semakin lama semakin menurun. Kini air tersebut tidak lagi bisa mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari. Baik untuk minum, mandi ataupun mencuci.

“Lihat saja airnya sekarang. Kalau mau mandi harus lihat-lihat kondisi air dulu. Kalu tidak pasti akan gatal-gatal. Bahkan saya pernah terkena penyakit kulit,” tambah Abdullah, warga RT 7 RW 3 Kelurahan Perawang, sambil menunjuk ke arah sungai.

Dulu waktu jika ia pergi memancing tidak perlu membawa air minum, cukup dengan mengandalkan air sungai siak untuk melepas dahaganya. Pria berumur 74 tahun ini juga menambahkan, kini pada musim hujan atau pada saat pasang air sungai terkadang terlihat berwarna hitam dan juga berbau. Hal tersebut yang menyebabkan warga tidak berani mempergunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh warga Desa Buatan II yang menjadi tempat persinggahan kedua tim ekspedisi. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh warga Perawang. Tidak hanya mengeluhkan kualitas air yang kian hari semakin menurun, hasil tangkapan ikan para nelayanpun menurun.
“Ikan Juara saja sudah susah mendapatkannya sekarang,” ungkap Anas Budin, warga Desa Buatan II kepada , Senin (28/4).

Menurutnya, mulai berkurangnya ikan-ikan dan habitat lain di Sungai Siak dikarenakan limbah-limbah industry yang dibuang ke sungai. Beberapa jenis ikan yang biasa terdapat di Sungai Siak di antaranya ikan patin, baung, limbat, juara, udang dan beberapa jenis ikan lainnya.
“Biasanya kalau masuk musim hujan dan air sungai pasang banyak ikan yang mabuk dan mati di pinggiran sungai,” jelasnya.

Selama berada di tempat tersebut, tim ekspedisi juga menemukan banyaknya sampah rumah tangga yang di buang ke sungai. Namun, menurut masyarakat sekitar, sampah-sampah tersebut tidak menyebabkan pencemaran sungai. “Kalau sampah rumah tangga tidak masalah yang masalah itu limbah pabrik . Lagipula kemana mau dibuang,” dalih Anas dan beberapa warga lainnya.

Menanggapi hal tersebut. Leader Tim Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak, Jay Jasmi, mengatakan, selain limbah dari pabrik yang terdapat di sepanjang aliran sungai mengurasngi kualitas air, limbah rumah tangga juga menyebabkan sungai menjadi tidak bersih. Apalagi jika sampah yang dibuang ke sungai merupakan sampah-sampah yang tidak mudah terurai. Bahkan sebagian warga beranggapan sampah-sampah yang mereka buang ke sungai tersebut dapat menghambat terjadinya abrasi sungai.

Ia mengharapkan adanya kesadaran dari warga untuk tidak membuang sampah ke sungai. Begitu juga dengan kapal-kapal yang melintasi sunga agar dapat turut menjaga kebersihan sungai. Selain itu, ia juga mengusulkan pada pemerintah untuk membuat satu unit khusus untuk menjaga kebersihan sungai.

Kampanye penyelamatan Sungai Siak ini tidak hanya dilakukan dengan membagikan poster dan juga leaflet pada masyarakat. Sepanjang perjalanan, tim juga membentangkan spanduk yang bertuliskan “Stop Polutan” dan mengarahkannya pada kapal-kapal yang melintas di sepanjang aliran sungai. Terutama pada kapal yang mengangkut penumpang, yang tentu saja aksi ini mendapat perhatian dari nakhoda dan juga penumpang kapal.

Tak ayal, aksi tersebut menjadi pusat perhatian. Beberapa kapal penumpang tersebut memperlambat lajunya sejenak dan memperhatikan aksi tersebut. Begitu juga ketika melewati perkampungan warga di sepanjang sungai, dermaga, penyeberangan dan juga pabrik-pabrik yang masih beroperasi di sepanjang sungai. Jay menambahkan, semua kegiatan ini dilakukan untuk memancing kepedulian masyarakat untuk menjaga dan menyelamatkan Sungai Siak.(ses)

Iklan

6 thoughts on “Dulu Airnya Bisa Diminum

  1. intan berkata:

    siak … aku ingin kau bisa kembali lagi seperti dulu, apakah mungkin??? aku harus bertanya padamu atau bertanya pada manusia2 yang tak bertanggung jawab itu ???/ siak … aku mencintaimu

  2. bunga raya2 berkata:

    halow sob apa kabar sala kenal aja aku sala satu orang yang cinta akan sungai siak
    yang ku perlukan sekarang adalah bagaimana langkah ke depan dalam menjaga sungai siak dari pencemaran

  3. andy-dunenta berkata:

    berbangga hati lah yang menjadi orang siak,dengan detak
    gaungan suara yang bercerita tentang legenda kerajaan siak…………………….ilove you siak!!!……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s