Dulu Airnya Bisa Diminum (2)

Perjalanan tim Ekspedisi terus dilanjutkan hingga ke muara Sungai Siak….Akhirnya…Di Sungai Siak aku bisa melihat laut….Hehehe…Tapi sedih juga dengar cerita-cerita mereka tentang Sungai Siak. Kini mencari ikanpun mereka sudah susah..hiks

Perjalanan tim River Watch dalam ekspedisi penyelamatan Sungai Siak terus dilanjutkan. Di sepanjang perjalanan menuju Siak, terlihat abrasi sepanjang pinggir sungai. Juga ditemui beberapa potongan-potongan kayu yang terombang-ombing di tengah sungai. Selain itu, beberapa kapal pengangkut potongan kayu menuju pabrik pengolahan juga terlihat lalu lalang.

Tidak hanya kondisi sungai yang mengalami abrasi dan juga pabrik yang masih beroperasi dan yang tidak beroperasi lagi, kini juga terlihat beberapa perkebunan sawit. Perkebunan ini berjarak tidak lebih dari beberapa puluhan meter dari pinggir Sungai Siak. Di sepanjandg sungai juga terlihat beberapa kanal yang memisahkan perkebunan tersebut.

Setelah singgah di Kota Istana, pada Rabu (30//4) dan membagikan poster, leaflet dan bersosialisasi di kota istana tim melanjutkan perjalanan ke Desa Dosan Kecamatan Pusako Kabupaten Siak.

Pada kesempatan tersebut, Tokoh Masyarakat Desa Dosan Kecamatan Pusako Kabupaten Siak, Dahlan, juga mengutarakan kesedihannya melihat Sungai Siak saat ini. “Sungai Siak hanya menunggu kehancuran,” ungkapnya.

Hal tersebut ia utarakan karena melihat kondisi Sungai Siak saat ini. Menurutnya jika tidak ada kebijakan kongkrit dari pemerintah untuk menyelamatkan Sungai Siak berkaitan dengan pencemaran yang terjadi, maka seperti yang ia bilang hanya menunggu kehancuran. Pemerintah harus benar-benar konsentrasi dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan Sungai Siak.

Bagi mereka air adalah barang yang murah dan mudah didapat. Akibat pencemaran yang belakangan ini terjadi membuat mereka tidak bisa lagi memanfaatkan air sungai secara maksimal. Seakan air yang ada disepelekan.

Desa Dosan merupakan satu di bantaran sungai Siak yang menerima proses pendampingan Perkumpulan Elang untuk simulasi manajemen Amdal kijang. Amdal Kijang adalah istilah yang dibangun oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) beberapa tahun yang lalu. Mengapa disebut kijang? Ini adalah singkatan dari “kaki telanjang” yang bermakna melakukan prosedur penelitian kualitas lingkungan tanpa menggunakan perangkat ilmiah standart. berbasis indra tubuh manusia; lihat, dengar, rasa, raba dan dicium.
“Dengan cara ini masyarakat juga bisa mengetahui apakah air sungai tercemar atau tidak,” ujar Dahlan, kepada Tribun.

Seperti yang terjadi sekitar tiga minggu yang lalu. Masyarakat Desa Dosan kembali menemukan ikan Sungai Siak yang mabuk. Ikan-ikan tersebut terlihat berkumpul di pinggiran sungai. Kondisi ikan tersebut terlihat mengambang dan perutnya pun membuncit. Begitu juga dengan warna air sungai, terlihat menghitam. Bahkan terkadang juga berbau.
“Apabila ditemukan kondisi sungai seperti ini berarti sungai dalam kondisi tercemar dan masyarakat bisa berhati-hati jika menggunakan air sungai,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Perkumpulan Elang, Riko Kurniawan menjelaskan, Amdal Kijang memudahkan masyarakat jika terjadi perubahan pada sungai. Masyarakat diminta untuk segara melaporkan perunahab tersebut. Cara ini juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengetahui kondisi sungai yang bisa mereka lakukan sambil mandi ataupun mencuci di sungai. Pihaknya juga mengajarkan pada masyarakat bagaimana cara mengambil sampe jika terjadi perubahan bau dan warna. Hal tersebut diajarkan untuk dapat memonitoring secara rutin. “Dengan adanya teknik Amdal Kijang masyarakat bisa melakukan monitoring secara reguler,” jelasnya lebih lanjut.

Beberapa desa lain yang mendapat pendampingan mengenai Amdal Kijang adalah Desa Teluk Leok-Pekanbaru, Desa Dosan-Siak, Desa Sungai Limau-Siak, Desa Teluk Mesjid-Siak, Desa Benayah-Siak, Pebadaran- Siak. Desa Sungai Gayoh-Rokan Hulu, Desa Pantai Cermin-Kampar, Desa- desa tersebut, terbagi atas desa yang berada di ruas Hulu Sungai Siak, ruas batang sungai dan juga pada ruas hilir Sungai Siak.

Kampanye terus dilanjutkan hingga ke Hilir Sungai Siak, tepatnya di Desa Sungai Apit. Sosialisasi dan pembagian poster serta leaflet juga tetap dilakukan. Kali ini tim dari Humendala Unri juga menempelkan poster-poster tentang ajakan untuk menyelamatkan Sungai Siak di rumah-rumah dan juga warung-warung masyarakat.

Hampir sama dengan beberapa tempat yang disinggahi oleh tim ekspedisi. Masyarakat Desa Sungai Apit juga merasakan hal yang sama tentang Sungai Siak. “Kami juga sudah pernah menanam pohon di pinggiran sungai sekitar pasar Sungai Apit ini,” ujar Aap, warga Desa Sungai Apit Kabutapen Siak, Kamis (1/5).

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi abrasi pada Sungai Siak. Ia juga mengatakan, terkadang aksi tersebut dilakukan secara individu dan kesadaran sendiri.

Di samping itu, beberapa warga dan desa yang disinggahi oleh tim ekspedisi pada saat perjalanan kembali menuju Pekanbaru mengatakan terjadi abrasi tebing pada tepian sungai yang disebabkan oleh hempasan gelombang dari kapal-kapal yang berlayar melalui Sungai Siak. Tidak hanya itu sedimentasi yang terjadi juga mengakibatkan terganggunya aktifitas di sungai.

“Abrasi pinggiran sungai juga disebabkan karena kapal-kapal yang melaju dengan kecepatan tinggi,” ujar warga Desa Okura Kecamatan Rumbai Pesisir, Ilyas, Jumat (2/5).

Selain itu ia juga mengungkapkan, terlepas dari semua yang saat ini tejadi di Sungai Siak adalah akibat oleh ulah tangan manusia juga. Masalah yang menerpa sungai kebanggaan masyarakat Riau ini tidak akan selesai tanpa ada kesadaran dari masyarakat sendiri.

Sementara itu, Wakil Gubernur Riau, Wan Abu Bakar mengharapkan penyelamatan Sungai Siak ini harus segera dilakukan. Tidak hanya oleh dengan adanya kebijakan pemerintah saja tetapi juga melibatkan masyarakat. “Hendaknya badan yang mengelola permasalahan Sungai Siak ini segera pro aktif untuk menyelesaikan permasalahan Sungai Siak,” ungkapnya saat melepas Tim Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak, Sabtu (26/4) lalu.


Perjalanan Tim Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak ini berakhir kembali di Kota Pekanbaru. Di harapkan setelah dilakukannya ekspedisi ini mata pemerintah dan juga masyarakat bisa terbuka dan memahami apa yang tengah terjadi dengan Sungai Siak. Kegiatan ekspedisi ini juga diharapkan menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas pemerhati lingkungan khususnya Sungai di Riau yang nantinya dikenal dengan nama River Watch. (ses)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s