Lobang Jepang

Bukittinggi….wah kalo ditanya soal Bukittinggi pasti ga ada habis-habis…hmmm..yup..Banyak tempat yang bisa dikunjungi di kota wisata ini. Aku aja ga bosan-bosan jalan di Bukittinggi. Mo gimana kali, kampung halamanku hehehe…

Ada beberapa tempat wisata di kota yang pernah menjadi ibu kota negara RI kala perang masih berkecamuk. Salah satunya adalah Lobang Jepang atau Goa Jepang (sama aja sih kayaknya) yang masih berada di areal pusat kota Bukittinggi. Goa ini berada di tempat wisata yang dikenal ma masyarakat dengan nama Panorama Indah.

Lobang Jepang adalah bukti sejarah pendudukan Jepang yang masih tersisa hingga sekarang. Lubang gunung yang berdinding batu keras ini panjangnya puluhan meter di bahwa Jl. Raya Ngarai Sianok, memiliki rahasia dan keunikan tersendiri.
Dengan rongga berbentuk setengah lingkaran yang rata-rata tingginya sekitar dua meter itu– kecuali beberapa rongga yang memaksa para pengunjung membungkuk untuk melewatinya—gua ini dulunya memiliki fungsi strategis bagi serdadu Jepang. Baca lebih lanjut

Iklan

Dulu Airnya Bisa Diminum (2)

Perjalanan tim Ekspedisi terus dilanjutkan hingga ke muara Sungai Siak….Akhirnya…Di Sungai Siak aku bisa melihat laut….Hehehe…Tapi sedih juga dengar cerita-cerita mereka tentang Sungai Siak. Kini mencari ikanpun mereka sudah susah..hiks

Perjalanan tim River Watch dalam ekspedisi penyelamatan Sungai Siak terus dilanjutkan. Di sepanjang perjalanan menuju Siak, terlihat abrasi sepanjang pinggir sungai. Juga ditemui beberapa potongan-potongan kayu yang terombang-ombing di tengah sungai. Selain itu, beberapa kapal pengangkut potongan kayu menuju pabrik pengolahan juga terlihat lalu lalang.

Tidak hanya kondisi sungai yang mengalami abrasi dan juga pabrik yang masih beroperasi dan yang tidak beroperasi lagi, kini juga terlihat beberapa perkebunan sawit. Perkebunan ini berjarak tidak lebih dari beberapa puluhan meter dari pinggir Sungai Siak. Di sepanjandg sungai juga terlihat beberapa kanal yang memisahkan perkebunan tersebut.

Setelah singgah di Kota Istana, pada Rabu (30//4) dan membagikan poster, leaflet dan bersosialisasi di kota istana tim melanjutkan perjalanan ke Desa Dosan Kecamatan Pusako Kabupaten Siak.

Pada kesempatan tersebut, Tokoh Masyarakat Desa Dosan Kecamatan Pusako Kabupaten Siak, Dahlan, juga mengutarakan kesedihannya melihat Sungai Siak saat ini. “Sungai Siak hanya menunggu kehancuran,” ungkapnya.

Hal tersebut ia utarakan karena melihat kondisi Sungai Siak saat ini. Menurutnya jika tidak ada kebijakan kongkrit dari pemerintah untuk menyelamatkan Sungai Siak berkaitan dengan pencemaran yang terjadi, maka seperti yang ia bilang hanya menunggu kehancuran. Pemerintah harus benar-benar konsentrasi dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan Sungai Siak.

Bagi mereka air adalah barang yang murah dan mudah didapat. Akibat pencemaran yang belakangan ini terjadi membuat mereka tidak bisa lagi memanfaatkan air sungai secara maksimal. Seakan air yang ada disepelekan.

Desa Dosan merupakan satu di bantaran sungai Siak yang menerima proses pendampingan Perkumpulan Elang untuk simulasi manajemen Amdal kijang. Amdal Kijang adalah istilah yang dibangun oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) beberapa tahun yang lalu. Mengapa disebut kijang? Ini adalah singkatan dari “kaki telanjang” yang bermakna melakukan prosedur penelitian kualitas lingkungan tanpa menggunakan perangkat ilmiah standart. berbasis indra tubuh manusia; lihat, dengar, rasa, raba dan dicium.
“Dengan cara ini masyarakat juga bisa mengetahui apakah air sungai tercemar atau tidak,” ujar Dahlan, kepada Tribun.

Seperti yang terjadi sekitar tiga minggu yang lalu. Masyarakat Desa Dosan kembali menemukan ikan Sungai Siak yang mabuk. Ikan-ikan tersebut terlihat berkumpul di pinggiran sungai. Kondisi ikan tersebut terlihat mengambang dan perutnya pun membuncit. Begitu juga dengan warna air sungai, terlihat menghitam. Bahkan terkadang juga berbau.
“Apabila ditemukan kondisi sungai seperti ini berarti sungai dalam kondisi tercemar dan masyarakat bisa berhati-hati jika menggunakan air sungai,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Perkumpulan Elang, Riko Kurniawan menjelaskan, Amdal Kijang memudahkan masyarakat jika terjadi perubahan pada sungai. Masyarakat diminta untuk segara melaporkan perunahab tersebut. Cara ini juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengetahui kondisi sungai yang bisa mereka lakukan sambil mandi ataupun mencuci di sungai. Pihaknya juga mengajarkan pada masyarakat bagaimana cara mengambil sampe jika terjadi perubahan bau dan warna. Hal tersebut diajarkan untuk dapat memonitoring secara rutin. “Dengan adanya teknik Amdal Kijang masyarakat bisa melakukan monitoring secara reguler,” jelasnya lebih lanjut.

Beberapa desa lain yang mendapat pendampingan mengenai Amdal Kijang adalah Desa Teluk Leok-Pekanbaru, Desa Dosan-Siak, Desa Sungai Limau-Siak, Desa Teluk Mesjid-Siak, Desa Benayah-Siak, Pebadaran- Siak. Desa Sungai Gayoh-Rokan Hulu, Desa Pantai Cermin-Kampar, Desa- desa tersebut, terbagi atas desa yang berada di ruas Hulu Sungai Siak, ruas batang sungai dan juga pada ruas hilir Sungai Siak.

Kampanye terus dilanjutkan hingga ke Hilir Sungai Siak, tepatnya di Desa Sungai Apit. Sosialisasi dan pembagian poster serta leaflet juga tetap dilakukan. Kali ini tim dari Humendala Unri juga menempelkan poster-poster tentang ajakan untuk menyelamatkan Sungai Siak di rumah-rumah dan juga warung-warung masyarakat.

Hampir sama dengan beberapa tempat yang disinggahi oleh tim ekspedisi. Masyarakat Desa Sungai Apit juga merasakan hal yang sama tentang Sungai Siak. “Kami juga sudah pernah menanam pohon di pinggiran sungai sekitar pasar Sungai Apit ini,” ujar Aap, warga Desa Sungai Apit Kabutapen Siak, Kamis (1/5).

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi abrasi pada Sungai Siak. Ia juga mengatakan, terkadang aksi tersebut dilakukan secara individu dan kesadaran sendiri.

Di samping itu, beberapa warga dan desa yang disinggahi oleh tim ekspedisi pada saat perjalanan kembali menuju Pekanbaru mengatakan terjadi abrasi tebing pada tepian sungai yang disebabkan oleh hempasan gelombang dari kapal-kapal yang berlayar melalui Sungai Siak. Tidak hanya itu sedimentasi yang terjadi juga mengakibatkan terganggunya aktifitas di sungai.

“Abrasi pinggiran sungai juga disebabkan karena kapal-kapal yang melaju dengan kecepatan tinggi,” ujar warga Desa Okura Kecamatan Rumbai Pesisir, Ilyas, Jumat (2/5).

Selain itu ia juga mengungkapkan, terlepas dari semua yang saat ini tejadi di Sungai Siak adalah akibat oleh ulah tangan manusia juga. Masalah yang menerpa sungai kebanggaan masyarakat Riau ini tidak akan selesai tanpa ada kesadaran dari masyarakat sendiri.

Sementara itu, Wakil Gubernur Riau, Wan Abu Bakar mengharapkan penyelamatan Sungai Siak ini harus segera dilakukan. Tidak hanya oleh dengan adanya kebijakan pemerintah saja tetapi juga melibatkan masyarakat. “Hendaknya badan yang mengelola permasalahan Sungai Siak ini segera pro aktif untuk menyelesaikan permasalahan Sungai Siak,” ungkapnya saat melepas Tim Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak, Sabtu (26/4) lalu.


Perjalanan Tim Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak ini berakhir kembali di Kota Pekanbaru. Di harapkan setelah dilakukannya ekspedisi ini mata pemerintah dan juga masyarakat bisa terbuka dan memahami apa yang tengah terjadi dengan Sungai Siak. Kegiatan ekspedisi ini juga diharapkan menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas pemerhati lingkungan khususnya Sungai di Riau yang nantinya dikenal dengan nama River Watch. (ses)

Dulu Airnya Bisa Diminum

Fiiuuhh… Seminggu ikut dalam Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak bareng Yayasan Perkumpulan Elang dan teman-teman dari Mapala Humendala Unri jadi pengalaman yang menarik. Bayangin aja…semua aktifitas dilakukan di atas pompong (sejenis kapal motor kecil yang mempunyai kapasitas mengangkut beban 6 ton). Capeknya lagi musti langsung ke kantor n bikin laporan perjalanan…..ffiiuuhhhh….

Sungai Siak merupakan satu sungai terdalam di Indonesia dan juga menjadi kebanggaan masyarakat Riau. Sungai ini tidak hanya menjadi sumber matapencaharian bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai. Sungai ini juga dijadikan sebagai lalulintas transportasi air oleh masyarakat.

Kebanyakan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai menggantungkan hidup mereka di sungai. Mencari ikan dan juga memanfaatkan air yang mengaliri sungai untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Baik untuk mandi maupun mencuci. Namun, beberapa tahun belakangan ini berbagai permasalahan terjadi. Satu di antaranya menurunkan kualitas air sungai akibat pencemaran yang disinyalir akibat pencemaran limbah industri dan juga limbah rumah tangga.

Banyak pihak yang peduli dan memberikan perhatian serius, berbagai cara dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dan melihat secara langsung apa yang tengah terjadi pada sungai yang menjadi kebanggaan masyarakat Riau tersebut. Seperti halnya yang dilakukan oleh Yayasan Perkumpulan Elang bersama mahasiswa pencinta alam Hubungan Mahasiswa Ekonomi Dengan Alam (Humendala) Universitas Riau melakukan perjalanan menyusuri Sungai Siak dan mengkampanyekan penyelamatan sungai tersebut.

Tim yang terdiri dari delapan mahasiswa dan dua aktivis dari Yayasan Perkumpulan Elang ini melakukan perjalanan dari Teluk Leok Kelurangan Limbungan Kecamatan Rumbai Pesisir hingga ke hulu Sungai Siak, tepatnya di Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak. Kampanye dilakukan dengan membagi-bagikan poster dan juga leaflet yang berisi tentang kondisi Sungai Siak dan juga himbauan agar masyarakat menjaga kelestarian dan kebersihan sungai.

Perjalananan yang dilakukan selama satu minggu ini dilakukan dengan menggunakan kapal motor atau yang pompong. Di kapal tersebut juga dibentangkan spanduk yang bertuliskan berbagai himbauan tentang penyelamatan Sungai Siak. Di antaranya terdapat spanduk yang bertuliskan Stop Polutan.

Selama perjalanan, tim ekspedisi singgah dibeberapa desa dan tempat keramaian yang ditemui di sepanjang sungai. Dari obrolan tersebut, terungkap bagaimana pendapat mereka tentang Sungai Siak dulu dan sekarang. “Dulu kami masih bisa minum air Sungai Siak ini,” ujar Ketua RT 7 RW 3 Kelurahan Perawang, Kecamatan Tualang, Siak, Syafei, saat ditemui Minggu (27/4) di Pasar Perawang saat tim singgah dan melakukan kampanye di lokasi tersebut.

Ia menceritakan, sekitar sepuluh tahun belakangan ini kualitas air Sungai Siak semakin lama semakin menurun. Kini air tersebut tidak lagi bisa mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari. Baik untuk minum, mandi ataupun mencuci.

“Lihat saja airnya sekarang. Kalau mau mandi harus lihat-lihat kondisi air dulu. Kalu tidak pasti akan gatal-gatal. Bahkan saya pernah terkena penyakit kulit,” tambah Abdullah, warga RT 7 RW 3 Kelurahan Perawang, sambil menunjuk ke arah sungai.

Dulu waktu jika ia pergi memancing tidak perlu membawa air minum, cukup dengan mengandalkan air sungai siak untuk melepas dahaganya. Pria berumur 74 tahun ini juga menambahkan, kini pada musim hujan atau pada saat pasang air sungai terkadang terlihat berwarna hitam dan juga berbau. Hal tersebut yang menyebabkan warga tidak berani mempergunakan air tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh warga Desa Buatan II yang menjadi tempat persinggahan kedua tim ekspedisi. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh warga Perawang. Tidak hanya mengeluhkan kualitas air yang kian hari semakin menurun, hasil tangkapan ikan para nelayanpun menurun.
“Ikan Juara saja sudah susah mendapatkannya sekarang,” ungkap Anas Budin, warga Desa Buatan II kepada , Senin (28/4).

Menurutnya, mulai berkurangnya ikan-ikan dan habitat lain di Sungai Siak dikarenakan limbah-limbah industry yang dibuang ke sungai. Beberapa jenis ikan yang biasa terdapat di Sungai Siak di antaranya ikan patin, baung, limbat, juara, udang dan beberapa jenis ikan lainnya.
“Biasanya kalau masuk musim hujan dan air sungai pasang banyak ikan yang mabuk dan mati di pinggiran sungai,” jelasnya.

Selama berada di tempat tersebut, tim ekspedisi juga menemukan banyaknya sampah rumah tangga yang di buang ke sungai. Namun, menurut masyarakat sekitar, sampah-sampah tersebut tidak menyebabkan pencemaran sungai. “Kalau sampah rumah tangga tidak masalah yang masalah itu limbah pabrik . Lagipula kemana mau dibuang,” dalih Anas dan beberapa warga lainnya.

Menanggapi hal tersebut. Leader Tim Ekspedisi Penyelamatan Sungai Siak, Jay Jasmi, mengatakan, selain limbah dari pabrik yang terdapat di sepanjang aliran sungai mengurasngi kualitas air, limbah rumah tangga juga menyebabkan sungai menjadi tidak bersih. Apalagi jika sampah yang dibuang ke sungai merupakan sampah-sampah yang tidak mudah terurai. Bahkan sebagian warga beranggapan sampah-sampah yang mereka buang ke sungai tersebut dapat menghambat terjadinya abrasi sungai.

Ia mengharapkan adanya kesadaran dari warga untuk tidak membuang sampah ke sungai. Begitu juga dengan kapal-kapal yang melintasi sunga agar dapat turut menjaga kebersihan sungai. Selain itu, ia juga mengusulkan pada pemerintah untuk membuat satu unit khusus untuk menjaga kebersihan sungai.

Kampanye penyelamatan Sungai Siak ini tidak hanya dilakukan dengan membagikan poster dan juga leaflet pada masyarakat. Sepanjang perjalanan, tim juga membentangkan spanduk yang bertuliskan “Stop Polutan” dan mengarahkannya pada kapal-kapal yang melintas di sepanjang aliran sungai. Terutama pada kapal yang mengangkut penumpang, yang tentu saja aksi ini mendapat perhatian dari nakhoda dan juga penumpang kapal.

Tak ayal, aksi tersebut menjadi pusat perhatian. Beberapa kapal penumpang tersebut memperlambat lajunya sejenak dan memperhatikan aksi tersebut. Begitu juga ketika melewati perkampungan warga di sepanjang sungai, dermaga, penyeberangan dan juga pabrik-pabrik yang masih beroperasi di sepanjang sungai. Jay menambahkan, semua kegiatan ini dilakukan untuk memancing kepedulian masyarakat untuk menjaga dan menyelamatkan Sungai Siak.(ses)