Hati-hati Dalam Memilih Makanan

Umumnya bahan  makanan mengandung beberapa unsur atau senyawa seperti air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, enzim, pigmen dan lain-lain. Kandungan jenis bahan tersebut bergantung pada sifat alamiah dari bahan makanan tersebut.

Adakalanya makanan yang tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandungan gizinya tinggi. Dengan arti lain kualitas dari suatu produk makanan sangat ditentukan oleh tingkat kesukaan konsumen terhadap makanan tersebut.

Biasanya dalam pengolahan makanan seseorang selalu berusaha untuk menghasilkan produk yang berkualitas baik. Kualitas makanan adalah keseluruhan sifat-sifat dari makanan tersebut yang berpengaruh terhadap penerimaan dari konsumen.

Atribut kualitas makanan adalah pertama yaitu sifat indrawi/organoleptik yaitu sifat-sifat yang dapat dinilai dengan pancaindra seperti sifat penampakan baik itu bentuk, ukuran maupun  warna. Begitu juga halnya dengan cita rasa yaitu asam, asin, manis, pahit, flavor, tekstur yaitu sifat yang dinilai dengan indra peraba.

Kualitas kedua dilihat dari nilai gizi yaitu karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan lain-lain. Ketiga, keamanan makanan yang dikonsumsi yaitu terbebas dari bahan-bahan pencemar atau racun yang bersifat mikrobiologis.

Makanan yang tersaji harus tersedia dalam bentuk yang lebih menarik, rasa enak, rupa dan konsistensinya baik serta awet maka sering dilakukan penambahan bahan tambahan makanan  yang sering disebut zat aditiva kimia (food aditiva).

Jenis-jenis bahan tambahan makanan yang sering digunakan adalah bahan pengawet, pewarna, pemanis, antioksidan, pengikat logam, pemutih, pengental, emulsifier, buffer  (asam, alkali), zat gizi, flavoring agent dan lain-lain

Namun pemberian bahan tambahan makanan tersebut juga harus tetap diwaspadai. Hal tersebut dikarenakan tidak semua bahan tambahan dapat dan boleh digunakan dalam makanan. Ada beberapa bahan tambahan yang dapat membahayakan kesehatan. Baik dengan reaksi langsung maupun tidak langsung.

Seperti halnya beberapa kasus yang ditemukan oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Pekanbaru. Dari hasil penelurusan pihak BBPOM ditemukan adanya bahan tambahan yang tidak boleh digunakan pada produk pangan.

Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Pekanbaru, Dra Erna Tara Apt menjelaskan, di antara bahan tambahana tersebut adalah zat pewarna Rhodamin B dan kuning metanil. Ada juga yang mengunakan formalin dan juga boraks pada makanan.

Bahan tambahan tersebut jika dikonsumsi secara terus menerus akan menumpuk dalam tubuh. Jika terjadi penumpukan dalam tubuh dapat menjadi penyebab karsinogenik. Mengingat masih beredarnya penggunaan bahan tambahan tersebut pada makanan, ia menghimbau agar masyarakat berhat-hati dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk pangan. (ses)

Bau Badan Tidak Hanya Disebabkan Keringat

Bau badan tidak sedap memang sering menganggu kita. Namun banyak cara bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. “Yang pertama dilakukan adalah mencari tahu penyebabnya,” ujar dr Rafles, pemilik Balai Pengobatan Arafah, Jalan Harapan Raya Pekanbaru.

Bau badan disebabkan oleh bakteri di bawah kulit yang bercampur dengan keringat. Bakteri tersebut nantinya akan mengeluarkan kotoran berupa bahan kimia alami yang menyebabkan bau tidak sedap. Bau tersebutlah yang kita kenal dengan bau badan (BB).

Ia menjelaskan, bau badan tidak hanya disebabkan oleh keringat yang berlebihan saja. Pola makan yang tidak bagus juga bisa menyebabkan bau badan. Ada beberapa makanan yang bisa memicu timbulnya bau badan jika kita mengkonsumsinya.

Di antaranya, bawang merah, bawang putih, bawang bombay, makanan pedas juga makanan yang berminyak. “Hindari mengkonsumsi makanan yang berbau menyengat,” ujarnya.

Penyakit yang yang diderita yang seseorang juga bisa menyebabkan bau badan yang tidak sedap. Misalnya saja hepatitis, maag dan beberapa penyakit lainnya. Menurut dr Rafles, reaksi yang terjadi dalam tubuh ketika kita menderita suatu penyakit juga bisa menyebabkan bau badan.

Dr Rafles juga menambahkan, perubahan hormon dan faktor genetik juga bisa menyebabkan bau badan. Namun, faktor genetik dan hormon tidak selalu menjadi penyeban utama. Yang paling adalah dengan menjaga kebersihan badan. “Mandi secara teratur bisa mengurangi bau badan yang tidak sedap,” ujarnya.

Cara yang paling umum dalam mengatasi bau badan dengan menggunakan deodoran. Deodoran yang memberikan bau harum dan antirespirant bisa meminimalisir keringat yang berlebihan. Cara ini efektif untuk mereduksi keringat yang tak sedap. Bedak tabur juga sering digunakan untuk mengurangi produksi keringat. Bedak tabur bisa berfungsi sebagai penyerap keringat.

Bedak tabur juga bisa digunakan untuk mengurangi keringat penyebab bau badan. Namun terkadang ada yang merasa menggunakan bedak tabur tidak efektif. Bedak tabur menumpuk di ketiak. Hal ini nantinya malah bisa memicu bau badan.

Bau badan juga bisa diatasi dengan cara tradisional dengan mengkonsumsi bahan-bahan alami yang bisa mengurangi produksi keringat. Banyak tumbuh-tumbuhan alami yang bisa dipergunakan.

Ia juga mengatakan, kunci utama dalam mengatasi bau badan adalah membersihkan badan. “Sebenarnya mandi secara teratur saja sudah bisa mengatasi bau badan tersebut,” jelasnya. Dalam mengatasi masalah bau badan, kita harus mengetahui terlebih dahulu penyebabnya apa. Jika penyebab sudah diketahui, kita bisa dengan mudah mengatasinya. Bila bau badan masih setia menemani kita, sebaiknya segera kunjungi dokter untuk mengetahui penyebab pastinya. (ses)